Minggu, 26 Oktober 2014


News / Regional

Susahnya Mencoblos bagi Pemilih Tunanetra...

Rabu, 2 April 2014 | 17:56 WIB
Kompas.com/M.Agus Fauzul Hakim Seorang tunanetra dan pendampingnya saat mengikuti sosialisasi pencoblosan Pemilu Calon Legislatif di Kota Kediri, Jawa Timur, Rabu (2/4/2014), oleh KPU setempat.
KEDIRI, KOMPAS.com - Tidak adanya huruf braile pada surat suara pada pemilu legislatif menjadi kendala berarti bagi para penyandang tuna netra.

Hal itu terlihat saat sejumlah penyandang tuna netra di di Kota Kediri, Jawa Timur mengikuti sosialisasi pencoblosan yang digelar oleh KPU setempat, Rabu (2/4/2014).

Acara tersebut digelar di rumah Lutfi, Ketua Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) Kediri, di Jalan Imam Bonjol.

Para penyandang disabilitas itu terlihat kesulitan mengidentifikasi calon legislatif maupun partai politik yang ada pada surat suara. Mereka sulit menjatuhkan pilihannya karena ketiadaan template huruf braile.

Hanya pada kartu suara untuk DPD saja yang dilengkapi braile, sedangkan untuk DPR, DPRD I, DPRD II tidak ada. "Kita memang kesulitan karena tidak ada huruf braile-nya," kata Yunike, seorang peserta sosialisasi.

Selain itu, mereka juga sulit menentukan pilihan suara karena tidak tahu figur caleg yang akan mewakilinya nanti.

Selama ini, dia menuturkan, hampir tidak ada caleg yang menyapanya. "Apalagi untuk caleg DPD, malah gak kenal sama sekali," imbuh Yunike.

Tentang aturan diperbolehkannya menggunakan pendamping saat mencoblos, kata Yunike, memang sedikit membantu.

Menurut dia, pendamping itu harus merupakan anggota keluarga demi menjaga ketepatan mencoblos.

"Kalo dari KPPS atau panitia, saya kurang percaya. Kuatir suara saya diselewengkan. Kalau anak atau suami sendiri kan kita tetep percaya," ungkap Yunike.

Komisioner KPU Kota Kediri, Zainal Arifin mengatakan, surat suara yang dilengkapi braile memang hanya bagi surat suara caleg DPD. Demi memudahkan pencoblosan bagi penyandang tunanetra dapat menggunakan opsi bantuan pendamping. Pendamping tersebut dapat berasal dari petugas KPU yang dipersiapkan saat pencoblosan maupun orang yang dipercaya oleh pemilih.

"Syarat pendamping itu mengisi formulir c3," kata Zainal Arifin.

Daftar pemilih tetap penyandang tunanetra, kata Zainal, berjumlah 25 orang yang tersebar di tiga kecamatan yang ada di Kota Kediri. Simulasi itu dilakukan untuk meningkatkan angka partisipasi pemilih dalam pemilu nanti.

Sebelumnya, sosialisasi juga dilakukan di lokalisasi prostitusi Semampir serta kalangan penyandang disablitas lainnya.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis: Kontributor Kediri, M Agus Fauzul Hakim
Editor : Glori K. Wadrianto