Jumat, 21 Juli 2017


News / Regional

Jokowi Mengenang Masa Kecil di Bantaran Kali Anyar

Selasa, 25 Oktober 2016 | 14:26 WIB
Kompas/Erwin Edhi Prasetya Presiden Joko Widodo menyalami warga saat berkunjung ke Kampung Cinderejo Lor, Kelurahan Gilingan, Banjarsari, Solo, Jawa Tengah, Minggu (16/10). Jokowi pernah tinggal 12 tahun saat kanak-kanak di kampung yang berada di pinggir Kali Anyar, anak Bengawan Solo, itu.

KOMPAS.com - Masa kanak-kanak Presiden Joko Widodo dekat dengan lingkungan sungai. Ia sering mandi di Kali Anyar di Gilingan, Solo, memancing, dan mencari telur bebek di pinggir kali itu.

 Di sela-sela pulang ke Solo, Jawa Tengah, menghadiri acara pembagian sertifikat tanah kepada masyarakat di Lapangan Kota Barat, Minggu (16/10/2016), Jokowi menyempatkan "napak tilas" mengenang masa kecil di bantaran Kali Anyar, di Kampung Cinderejo Lor, Kelurahan Gilingan, Banjarsari, Solo.

"Saya 12 tahun tinggal di sini (Cinderejo Lor). Sering dulu (mandi di Kali Anyar), kalau dibilang tidak pernah, ya, pasti tidak percaya," kata Jokowi sembari tersenyum mengenang masa kanak-kanaknya yang menyenangkan.

Presiden Jokowi tiba di RT 001 RW 003, Kampung Cinderejo Lor, yang berada persis di pinggir Kali Anyar sekitar pukul 08.15, setelah sebelumnya berolahraga pagi jalan kaki pada hari bebas kendaraan di Jalan Slamet Riyadi.

Kedatangannya disambut antusias warga. Mereka berebut ingin menjabat tangan sang Presiden. Jokowi berjalan menyusuri gang-gang kecil perkampungan hingga berada di bibir Kali Anyar, yang terlihat berserak sampah.

Sesekali ia berhenti melayani jabat tangan warga. Ketika hendak menyudahi napak tilasnya, ia bertemu teman sepermainannya dulu, Bandi (59). Mereka bersalaman hangat meski tak sempat berbincang lama melepas kangen dan berbagi kisah-kisah lucu masa kecil.

"Tadi hanya ketemu dua teman kecil, atau hanya tinggal dua orang, ya, yang tinggal di sini," katanya penasaran.

Jokowi memberikan kenang-kenangan sebuah kaus abu-abu kepada Bandi sebelum pulang ke kediamannya di Sumber, Banjarsari. Bandi menuturkan, mandi beramai-ramai di Kali Anyar digemari anak-anak yang tinggal di pinggir kali, termasuk Jokowi.

Kali Anyar hanya berjarak sekitar 20 meter dari rumah orangtua Jokowi, Noto Mihardjo (almarhum). Air Kali Anyar waktu itu masih jernih dan bersih. Tidak seperti sekarang banyak sampah dan tercemar limbah rumah tangga dan lainnya.

"Biasanya setelah pulang sekolah main-main ke sungai. Mancing, mandi di kali, dan cari telur-telur bebek di pinggir kali," kenang Bandi.

Ketika itu, tutur Bandi, bercerita, di pinggir Kali Anyar banyak bebek yang dilepas bebas. Entah siapa yang memelihara, Bandi tidak tahu, yang jelas tidak ada orang mengangon bebek-bebek itu. Bebek-bebek itupun bertelur di sembarang tempat. Nah, setelah puas berenang-renang di sungai, Bandi, Jokowi, dan anak-anak lain berlomba mencari telur-telur bebek di pinggir kali.

"Kalau dapat telur langsung direbus saat itu juga dengan air Kali Anyar. Enggak pakai panci merebusnya, tetapi pakai kaleng seadanya," kata Bandi.

 Ketika asyik bermain-main, jika ada salah satu orangtua anak-anak datang mencari, mereka langsung bubar. Lari tunggang-langgang semua. Mereka takut dimarahi oleh orangtua masing-masing.

Ibunda Jokowi, Sujiatmi Noto Mihardjo, tutur Bandi, sering mencari-cari putranya ke pinggiran sungai.

"Yang sering nyari Mas Jokowi, ya, Bu Noto," katanya.

Pindah rumah

Bandi mengaku mulai jarang bertemu dengan temannya itu sejak orangtua Jokowi pindah rumah ke Sumber, Kecamatan Banjarsari, Solo. Rumah yang dulu pernah ditinggali orangtua Jokowi, kini tak lagi berbekas. Di lokasi itu telah dibangun Pasar Ngudi Rejeki.

Walaupun lama tidak pernah bertemu, Jokowi tidak melupakan teman lamanya. Bandi sempat bertemu lagi di Cinderejo Lor ketika Jokowi menjadi calon wali kota Solo.

"Saya juga pernah ketemu tak sengaja di Bandara Adi Soemarmo, saat menjemput penumpang. Waktu itu masa kampanye Pilkada DKI Jakarta. Ternyata Mas Jokowi masih ingat saya, saya didatangi dan dirangkul," kata Bandi yang bekerja sebagai sopir ambulans.

Dalam kunjungan singkatnya itu, Presiden menerima laporan Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS)Bengawan Solo Yudi Pratondo. BBWS Bengawan Solo berencana melaksanakan proyek normalisasi Kali Anyar dan Pepe. Kali Anyar merupakan terusan Kali Pepe, anak Bengawan Solo yang berhulu di Boyolali, Jawa Tengah.

Normalisasi dilakukan untuk mengatasi banjir akibat luapan Kali Anyar dan Pepe yang sering menggenangi wilayah Kelurahan Banyuanyar, Manahan, Sumber, Gilingan, dan Nusukan di Kecamatan Banjarsari. Normalisasi akan mulai dikerjakan di kawasan Bendung Karet Tirtonadi di sebelah timur Cinderejo Lor.

Jokowi meminta BBWS Bengawan Solo melakukan sosialisasi kepada warga yang tinggal di bantaran kali. Jika dibutuhkan relokasi, warga harus disediakan tempat yang lebih baik.

"Di semua tempat karena kerusakan lingkungan di hulu sehingga di hilir terkena imbas banjir. Itulah yang akan terus kita kerjakan di semua provinsi," ujar Jokowi.

Kanak-kanak Jokowi tak jauh-jauh dengan sungai. Saat berlebaran di Balai Desa Kragan, Kecamatan Gondangrejo, Karanganyar, Jawa Tengah, Juli lalu, Presiden Jokowi bercerita sering mandi juga di Bengawan Solo, ketika bertandang ke desa tempat tinggal kakek dan neneknya, Lamidi Wiryo Miharjo (almarhum) dan Painem, di Kragan. Untuk menuju rumah kakeknya, ia juga harus naik getek (rakit) untuk menyeberangi sungai. (RWN)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 24 Oktober 2016, di halaman 24 dengan judul "Jokowi Mengenang Masa Kecil di Bantaran Kali Anyar".


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : Caroline Damanik
Sumber: Harian Kompas